Dulu waktu aku masih TK, aku ikut kursus musik di salah satu sekolah musik di Semarang. Dari situlah kegemaranku akan musik -terutama piano- bisa muncul. Aku diajari berbagai macam lagu, mulai dari lagu anak-anak yang sederhana sampai lagu-lagu klasik mudah. Sebagian besar lagu yang diajarkan di sekolah musik itu adalah lagu-lagu piano gubahan para musisi dan guru musik Jepang, karena memang dari negara itulah foundation sekolah musik tersebut berasal. Lagunya begitu-begitu saja karena memang untuk melatih anak-anak main piano, tapi bagiku pada waktu itu, kerja keras latihannya tidak sebanding untuk memainkan lagu yang main-dan-lupakan itu. Karena itulah aku punya sentimen tersendiri pada lagu-lagu piano Jepang dan lebih menyukai lagu-lagu klasik dari barat. Tentu saja, saya pada waktu itu mempelajari versi yang telah disederhanakan dari lagu-lagu tersebut.
Suatu hari aku melihat-lihat buku musik milik seorang guru piano, dan ternyata ada partitur Fur Elise, karya gubahan Ludwig van Beethoven yang terkenal itu. Selama ini aku hanya mempelajari versi sederhananya saja, bisa melihat partitur versi aslinya merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku, seakan melihat kebenaran yang selama ini disembunyikan.
Aku pun melihat-lihat lagi. Ternyata ada banyak lagu-lagu menarik yang aku tahu tapi tidak pernah aku pelajari dari sekolah musik. Partiturnya asli, tidak disederhanakan untuk anak-anak yang baru belajar. Anehnya ini yang membuat saya tertarik mempelajari, lalu mencoba melatih lagu tersebut dengan skill yang begitu-begitu saja. (Discovery ini terjadi saat aku kelas 5-6 SD)
Ketertarikan saya pada musik klasik tidak berhenti sampai situ saja. Digerakkan oleh rasa penasaran, saya membeli sebuah CD musik klasik di sebuah toko musik di Semarang. Di situ ada Fur Elise, jadi saya bisa tahu seperti apakah lagu yang yang saya latih itu seharusnya berbunyi. Aku yang terkesima dengan permainan piano di CD itu lalu mencoba main di keyboard. Tentu saja gak mirip.
Selain Fur Elise, tentu ada banyak deretan lagu klasik yang bagus-bagus di situ. Kudengarkan setiap hari sambil belajar, walau ujungnya aku lebih banyak menyimak lagu-lagu itu daripada teks di buku cetakku.
Suatu hari, aku membaca-baca sebuah majalah musik milik temanku. Ternyata di dalamnya ada sebuah partitur musik berjudul Claire de Lune karya Claude Debussy. Claire de Lune? Nama itu terasa familiar bagiku, tapi saat itu aku belum tahu kenapa. Karena memang isinya menarik, majalah itu kupinjam dari temanku dan kubawa pulang. Saat sampai di rumah, aku baru sadar bahwa lagu tersebut adalah salah satu lagu yang ada dalam CD musik klasikku itu.
Sesampainya di kamar, aku setel CD itu sambil membaca partiturnya. Apresiasiku terhadap lagu itu bertambah, melihat partiturnya yang cukup rumit. Aku pun mencoba memainkan Claire de Lune di Keyboard. Latihan berjalan lancar sampai halaman ketiga, dimana partitur mulai rumit. Membaca notasinya saja sudah sulit, apalagi memainkannya. Terhenti di halaman 3, aku pun terus melatih 2 halaman sebelumnya. Karena waktu itu keyboard yang kumiliki tidak punya pedal sustenuto, memainkan partitur itu jadi agak susah.
Latihan terhenti selama 3 tahun. Dan selama itu juga majalah temanku itu tidak aku kembalikan.
Ketika aku kelas 1 SMA, aku mencoba mengutak-atik Claire de Lune lagi. Masih sama, masih terjebak di halaman ketiga. Latihan itu aku teruskan sampai kelas 2, sampai halaman 4. Ada sebuah jeda latihan di pertengahan kelas 2, terutama karena faktor kemalasan.
Ketika naik ke kelas 3, aku ingin melatih kembali lagu itu. Tapi, majalah yang selama ini kupelajari partiturnya menghilang. Dicari-cari pun tidak ada. Sepertinya majalah itu sudah bosan melihatku.
Untungnya ada internet. Aku mencari partitur Claire de Lune di internet, dan ternyata ada! Notasi yang tertulis lebih mudah dibaca daripada di majalah itu. Aku yang saat itu punya tekad membara pun menuntaskan latihan Claire de Lune.
Durasi latihan hampir 6 tahun. Enam tahun!
Hanya untuk sebuah lagu yang berdurasi kurang lebih 4 menit, aku menghabiskan waktu hampir 6 tahun untuk mempelajarinya. Mungkin memang agak memalukan, tapi ada sebuah rasa bangga dan bahagia karena dapat menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai.
Cerita tidak berhenti sampai disini.
Aku yang saat itu tertarik dengan anime suka mencari-cari piano cover dari lagu-lagu OST anime yang sedang kuikuti. Salah satu lagu yang kusukai saat itu adalah Kuusou Mesorogiwi, opening theme anime Mirai Nikki. Aku mencari piano cover-nya di google, dan ternyata ada sebuah piano cover yang bagus sekali dari animenz.wordpress.com. Dia punya gaya tersendiri, memasukkan unsur klasik ke dalam transkripsinya. Aku yang terpesona spontan mengunduh partiturnya. Waktu di-print, ternyata banyak juga, 8 halaman.
Proses latihan berjalan lancar sampai halaman ketiga. (Ada apa sih dengan halaman ketiga?) Latihan ini aku mulai sekitar bulan November 2011, dan sampai tulisan ini di-post (Mei 2012), latihan belum selesai!
Lebih parah lagi, dengan 3 halaman partitur yang diulang-ulang terus itu, jariku jadi terlalu terbiasa dan mulai lengket. Dari yang harusnya main 4 nada satu ketukan, jadi asal seret aja. Jari itu paling bagus kalau baru beberapa kali latihan, mainnya masih bisa persis dengan partitur. Aku tidak tahu dengan yang lain, tapi kalau sudah terlalu sering dilatih, jariku jadi serasa kurang respect pada presisi nada, jadi berat kalau mau diperbaiki atau dilatih ulang.
Kemungkinan, gabungan hal di atas dengan kurangnya niat latihan menjadi penyebab mengapa latihan laguku selalu berjangka waktu lama. Bisa saja Kuusou Mesorogiwi ini selesai kulatih bertahun-tahun lagi. Mengerikan memang.
Dulu ada seorang tua dari keluarga yang bilang padaku, “Musik klasik itu memang dilatih dalam jangka waktu yang lama, tapi hasilnya maksimal.” Mungkin aku terlalu lama latihan.
Latihan itu baik. Terlalu banyak latihan itu kurang baik.





