Pengumpan:
Tulisan
Komentar

Dulu waktu aku masih TK, aku ikut kursus musik di salah satu sekolah musik di Semarang.  Dari situlah kegemaranku akan musik -terutama piano- bisa muncul.  Aku diajari berbagai macam lagu, mulai dari lagu anak-anak yang sederhana sampai lagu-lagu klasik mudah.  Sebagian besar lagu yang diajarkan di sekolah musik itu adalah lagu-lagu piano gubahan para musisi dan guru musik Jepang, karena memang dari negara itulah foundation sekolah musik tersebut berasal.  Lagunya begitu-begitu saja karena memang untuk melatih anak-anak main piano, tapi bagiku pada waktu itu, kerja keras latihannya tidak sebanding untuk memainkan lagu yang main-dan-lupakan itu.  Karena itulah aku punya sentimen tersendiri pada lagu-lagu piano Jepang dan lebih menyukai lagu-lagu klasik dari barat.  Tentu saja, saya pada waktu itu mempelajari versi yang telah disederhanakan dari lagu-lagu tersebut.

Suatu hari aku melihat-lihat buku musik milik seorang guru piano, dan ternyata ada partitur Fur Elise, karya gubahan Ludwig van Beethoven yang terkenal itu.  Selama ini aku hanya mempelajari versi sederhananya saja, bisa melihat partitur versi aslinya merupakan kebahagiaan tersendiri bagiku, seakan melihat kebenaran yang selama ini disembunyikan.

Aku pun melihat-lihat lagi.  Ternyata ada banyak lagu-lagu menarik yang aku tahu tapi tidak pernah aku pelajari dari sekolah musik.  Partiturnya asli, tidak disederhanakan untuk anak-anak yang baru belajar.  Anehnya ini yang membuat saya tertarik mempelajari, lalu mencoba melatih lagu tersebut dengan skill yang begitu-begitu saja.  (Discovery ini terjadi saat aku kelas 5-6 SD)

Ketertarikan saya pada musik klasik tidak berhenti sampai situ saja.  Digerakkan oleh rasa penasaran, saya membeli sebuah CD musik klasik di sebuah toko musik di Semarang.  Di situ ada Fur Elise, jadi saya bisa tahu seperti apakah lagu yang yang saya latih itu seharusnya berbunyi.  Aku yang terkesima dengan permainan piano di CD itu lalu mencoba main di keyboard.  Tentu saja gak mirip.

Selain Fur Elise, tentu ada banyak deretan lagu klasik yang bagus-bagus di situ.  Kudengarkan setiap hari sambil belajar, walau ujungnya aku lebih banyak menyimak lagu-lagu itu daripada teks di buku cetakku.

Suatu hari, aku membaca-baca sebuah majalah musik milik temanku.  Ternyata di dalamnya ada sebuah partitur musik berjudul Claire de Lune karya Claude Debussy.  Claire de Lune? Nama itu terasa familiar bagiku, tapi saat itu aku belum tahu kenapa.  Karena memang isinya menarik, majalah itu kupinjam dari temanku dan kubawa pulang.  Saat sampai di rumah, aku baru sadar bahwa lagu tersebut adalah salah satu lagu yang ada dalam CD musik klasikku itu.

Sesampainya di kamar, aku setel CD itu sambil membaca partiturnya.  Apresiasiku terhadap lagu itu bertambah, melihat partiturnya yang cukup rumit.  Aku pun mencoba memainkan Claire de Lune di Keyboard.  Latihan berjalan lancar sampai halaman ketiga, dimana partitur mulai rumit.  Membaca notasinya saja sudah sulit, apalagi memainkannya.  Terhenti di halaman 3, aku pun terus melatih 2 halaman sebelumnya.  Karena waktu itu keyboard yang kumiliki tidak punya pedal sustenuto, memainkan partitur itu jadi agak susah.

Latihan terhenti selama 3 tahun.  Dan selama itu juga majalah temanku itu tidak aku kembalikan.

Ketika aku kelas 1 SMA, aku mencoba mengutak-atik Claire de Lune lagi.  Masih sama, masih terjebak di halaman ketiga.  Latihan  itu aku teruskan sampai kelas 2, sampai halaman 4.   Ada sebuah jeda latihan di pertengahan kelas 2, terutama karena faktor kemalasan.

Ketika naik ke kelas 3, aku ingin melatih kembali lagu itu.  Tapi, majalah yang selama ini kupelajari partiturnya menghilang.  Dicari-cari pun tidak ada.  Sepertinya majalah itu sudah bosan melihatku.

Untungnya ada internet.  Aku mencari partitur Claire de Lune di internet, dan ternyata ada! Notasi yang tertulis lebih mudah dibaca daripada di majalah itu.  Aku yang saat itu punya tekad membara pun menuntaskan latihan Claire de Lune.

Durasi latihan hampir 6 tahun.  Enam tahun!

Hanya untuk sebuah lagu yang berdurasi kurang lebih 4 menit, aku menghabiskan waktu hampir 6 tahun untuk mempelajarinya.  Mungkin memang agak memalukan, tapi ada sebuah rasa bangga dan bahagia karena dapat menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai.

Cerita tidak berhenti sampai disini.

Aku yang saat itu tertarik dengan anime suka mencari-cari piano cover dari lagu-lagu OST anime yang sedang kuikuti.  Salah satu lagu yang kusukai saat itu adalah Kuusou Mesorogiwi, opening theme anime Mirai Nikki.  Aku mencari piano cover-nya di google, dan ternyata ada sebuah piano cover yang bagus sekali dari animenz.wordpress.com.  Dia punya gaya tersendiri, memasukkan unsur klasik ke dalam transkripsinya.  Aku yang terpesona spontan mengunduh partiturnya.  Waktu di-print, ternyata banyak juga, 8 halaman.

Proses latihan berjalan lancar sampai halaman ketiga.  (Ada apa sih dengan halaman ketiga?) Latihan ini aku mulai sekitar bulan November 2011, dan sampai tulisan ini di-post (Mei 2012), latihan belum selesai!

Lebih parah lagi, dengan 3 halaman partitur yang diulang-ulang terus itu, jariku jadi terlalu terbiasa dan mulai lengket.  Dari yang harusnya main 4 nada satu ketukan, jadi asal seret aja.  Jari itu paling bagus kalau baru beberapa kali latihan, mainnya masih bisa persis dengan partitur.  Aku tidak tahu dengan yang lain, tapi kalau sudah terlalu sering dilatih, jariku jadi serasa kurang respect pada presisi nada, jadi berat kalau mau diperbaiki atau dilatih ulang.

Kemungkinan, gabungan hal di atas dengan kurangnya niat latihan menjadi penyebab mengapa latihan laguku selalu berjangka waktu lama.  Bisa saja Kuusou Mesorogiwi ini selesai kulatih bertahun-tahun lagi.  Mengerikan memang.

Dulu ada seorang tua dari keluarga yang bilang padaku, “Musik klasik itu memang dilatih dalam jangka waktu yang lama, tapi hasilnya maksimal.” Mungkin aku terlalu lama latihan.

Latihan itu baik.  Terlalu banyak latihan itu kurang baik.

Yang namanya penggemar anime pastilah juga tergoda dengan OST anime yang ditonton.  Setelah mengunduh (secara ilegal, tentu saja -yohoho-), langsung masuk playlist.  Yang namanya musisi merilis lagu gak mungkin kan cuma satu lagu aja yang dijual ke pasaran, pastilah dihimpun dalam satu album, meskipun isi albumnya hanya satu-dua lagu saja tapi beda versi (Instrumental version, TV anime version, dll).  Nah, kadangkala saya men-download satu album.  Ambil satu, sisanya? Yah, saya agak malas saja mendengarkan lagu lainnya, maka saya biarkan mengendap di dalam komputer.


Salah satu anime yang saya download -yohoho- dan saya nikmati berjudul “Bakemonogatari”.  (Browse-lah sendiri kalau belum tahu)   Tentu saja ini perbuatan Dika yang meracuniku dengan anime.  Yang mengisi ending song-nya adalah band bernama Supercell dengan vokalisnya Nagi, yang waktu itu masih terdengar asing bagi saya.  Judulnya “Kimi no Shiranai Monogatari” 『君の知らない物語」, bisa diterjemahkan “The Story You Don’t Know”.  Karena ternyata lagunya bagus, saya jadi tertarik membajak (dalam kosakata yang bisa diterima secara sosial, “mengunduh”) lagu ini.

Memang bagus.  Jarang saya ketemu lagu yang piano-nya menonjol.  Maafkan saya kalau salah bicara karena saya masih newbie dalam dunia musik dunia, tapi saya jarang ketemu lagu tipe pop yang pianonya kelihatan, apalagi cukup mendominasi lagu.  Lagu ini juga bagus secara lirik, ada cerita yang mengalir dalam tiap baitnya.  Waktu itu saya tidak tahu kalau Supercell punya album.

Beberapa hari kemudian, Dika meracuniku lagi dengan lagu lainnya dalam album supercell yang sama.  Bagus juga.  Lama-lama aku minta di-copy-kan satu album.  Judul albumnya “Today is a Beautiful Day”.  Tapi itu pun cuma aku dengarkan sebagian, sisanya? Mengendap. Entah mengapa, saya agak malas mendengarkan lagu yang sama sekali asing di telinga.  Kalau lagu-lagu OST itu kan saya sudah pernah lihat versi kecilnya lewat video opening atau ending anime.


Lagu itu mengendap berbulan-bulan di hard disk sampai libur setelah Ujian Nasional ini.  Mungkin sudah setahun lebih.  Sampai suatu hari saya main Counter Strike setelah sekian lama, tetapi dengan cara yang berbeda.  Saya sadar bahwa menunggu bangkit kembali setelah ditembak tim lawan itu lama dan membosankan, apalagi kalau anggota yang tersisa suka ngumpet.  Karena itulah, saya buka koleksi musik saya, dan memutar album Supercell itu, play all.  Lalu kembali ke window Counter Strike.

Lagu pertama, Owari e Mukau Hajimari no Uta.  Not bad.

Lagu kedua, Kimi no Shiranai Monogatari.  Tentu saja bagus.

Lagu ketiga, HERO.  Bagus juga, kenapa gak dari dulu ya tahu lagu ini.

Kulanjut dengan lagu keempat, kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya.  Kalau ada rasa malas dan prejudice terhadap lagu itu, saya sedang main Counter Strike, tidak ada tombol pause atau stop untuk diklik.  Ini tujuan sebenarnya, main CS sambil menikmati lagu yang tidak pernah sempat dan tidak pernah mau dinikmati.

Aku yang biasanya malas mendengarkan lagu-lagu dalam album ini tercengang.  Ternyata selama ini ada sebuah album bagus yang mengendap di komputerku.  Genre musik berubah-ubah tiap lagunya.  Ada yang Rock n’ roll, ada yang jazz, ada yang pop biasa.  Karakter Nagi sang vokalis pun berubah-ubah tiap lagunya, ada yang cewek cute, cewek nakal, ataupun cewek pemberontak.

Karena kemampuan listening bahasa Jepangku juga cuma segitu-segitu saja, aku cari translation lagu-lagu itu di internet.  Beruntunglah aku menemukan sebuah blog yang menerjemahkan satu album “Today is a Beautiful Day”.  Aku bertambah kagum.  Setiap lagu mengandung cerita yang berbeda.  Cerita ini mengalir dari intro sampai ending.  Hampir tidak ada lirik yang diulang, bahkan untuk reffren-nya, karena seluruh lirik adalah kesatuan cerita.  Lirik ini sebagian besar bersudut pandang cewek.  Tipe liriknya adalah cerita dari Nagi yang sebagai pemeran utama cerita-cerita tersebut.  Di antara cerita-cerita tersebut, kadang ada juga tipe lirik yang berupa curhat dari sang pelaku utama cerita.  Ada juga yang ceritanya bersudut pandang pengamat atau orang ketiga.  (Kenapa jadi bahasa Indonesia begini..)

Kimi no Shiranai Monogatari, lagu yang lama aku dengarkan itu, menceritakan tentang seorang gadis yang pergi melihat bintang dengan teman-temannya.  Di antara teman-temannya itu ada cowok yang dia suka, tapi sampai acara melihat bintang mereka itu selesai, si cewek tetap tidak bisa menyampaikan perasaannya ke cowok itu.  Perasaan itu disimpan si cewek dan menjadi rahasia semata.  Judulnya jadi masuk akal.


Lagu HERO 「ヒーロー」, menceritakan tentang seorang cowok yang suka menggambar, sedang mengamati seorang cewek yang bercakap-cakap dengan temannya, tentang bagaimana cewek itu mirip dengan karakter heroine di manga yang dia gambar.  Si cewek yang sudah lama dia sukai itu akhirnya sadar bahwa dia sedang diperhatikan seseorang.  Cewek ini pun sadar kalau si cowok ini teman sekelasnya yang hobi menggambar.  Si cowok ini sudah ketakutan, dia merasa akan diolok-olok lagi karena hobinya.  Ternyata, si cewek ini malah suka dengan gambar-gambar si karakter utama lagu ini.  Ini kisah tentang rasa suka diam-diam yang akhirnya terbalaskan.

Lirik-lirik lagu selanjutnya kubaca dan kudengarkan, semua lagu bagus, musik maupun ceritanya.  Menemukan album ini seperti menemukan cincin emas yang kejepit lemari.  (Yah, apapun analoginya)

Semua lagu-lagu itu tercipta berkat adanya sosok Ryo, atau bisa dibilang Supercell itu sendiri.  Dialah sang jenius dibalik nama Supercell, yang bisa memainkan berbagai macam instrumen serta mengarang lagu.  Semua lagu dia yang buat.  Permainan pianonya menonjol dalam lagu-lagu Supercell, menciptakan sebuah ciri khas.  Wajahnya seperti apa pun para fans tak ada yang tahu.  Ada gosip yang mengatakan bahwa Ryo itu cewek, dilihat dari lirik-lirik lagunya yang bersudut pandang cewek.

Dulu Nagi juga begitu, dalam foto close-up pun wajahnya ditutupi.  Tetapi sekarang tidak lagi, karena Nagi sudah bekerja sendiri dibawah sebuah label rekaman.  Bahkan di situsnya ia sudah jelas-jelas memasang fotonya sebagai header.  Untuk yang belum tahu mungkin terasa biasa saja, tapi untuk kami, para fans yang “buta”, merupakan hal yang luar biasa saat beredar kabar peluncuran yanaginagi.net.

Intinya, Supercell telah membuat hari itu menjadi sebuah beautiful day.

*Diam sebentar untuk menikmati kalimat yang barusan*

Pesan moral: Bila Anda memiliki tumpukan lagu yang belum sempat didengarkan, putarlah saat main game.

Akhirnya, UN 2012 telah berakhir.  *ngesot lemas di tembok*

Buku pemkot dikembalikan, organisasi pun sudah punya pengurus yang baru.  Saya bisa meninggalkan sekolah dengan tenang.

Dengan selesainya UN, awal yang baru telah muncul.  Saatnya mengumpulkan momentum untuk SNMPTN.  Tapi sebelum berjuang mati-matian, bolehlah bersantai-santai dahulu..

Banyak hal terjadi sejak post terbaru blog ini (yang sudah berbulan-bulan lalu) ditulis:

-Aku terpukau dengan game Assassin’s Creed, baik gameplay maupun storyline-nya.  Tapi berhubung spec laptop dan PC di rumah sungguh tidak mencukupi baik VGA maupun RAM-nya, aku selalu meminjam laptop Dika untuk main.  Dengan graphic yang sangat mulus saya jadi sangat semangat main (apalagi buat saya main Assassin’s Creed banyak sekali halangannya), apalagi kalau dapat adegan combat.  Dalam beradu pedang, apapun yang saya lakukan, baik menyerang ataupun menangkis, yang dilihat orang hanyalah saya yang sedang merusak mouse Dika.  Dalam bermain, aku dan Phoa berganti-ganti giliran, kalau masalah manjat-manjat dan freerunning urusan Phoa, kalau combat urusanku.  Untuk yang main Assassin’s Creed juga, di bawah ini ada tutorial yang saya tulis berdasarkan cara bermain Phoa:

Phoa’s Guide on Assassin’s Creed: How to Clean the City

1. Berdoa dulu untuk kelancaran misi. 

2. Cari kumpulan guard, satu korban dan satu atau lebih saksi.  

3. Bunuh korban secara high profile/terang-terangan supaya saksi melihat.  

4. Lari, jangan bunuh guard saksi.

5. Sambil lari, carilah kumpulan guard yang lain.

6. Bunuh salah satu terang-terangan.

7. Lari lagi, giring para guard untuk mengikuti Anda.

8. Ulangi langkah 5-7 sampai jumlah guards yang mengikuti Anda masuk angka puluhan.  Pencet Q (Chase Cam) untuk efek thriller.  

9. Kalau status Anda Cool Down (Kuning), berhentilah sampai para guards melihat Anda lagi (status exposed/merah), lalu lari lagi.

10. Berhentilah hanya bila Anda menemui jalan buntu, macam dinding kota atau gerbang kota.  

11. Enjoy.  

Terakhir kali Phoa berbuat seperti ini, serasa bagai satu kota mengejar dia.  Phoa belok ke gang, eh mentok dinding kota.  Phoa pencet tab, lalu bilang “giliranmu, Ric.”  Untungnya, karena saya adalah ahli bertarung *uhuk*, mereka semua tewas.  Lalu jalan-jalan jadi sepi karena guards-nya sudah mati semua.

Intinya, Assassin’s Creed adalah game yang sangat baik menurut saya.  Ketiadaan subtitle dalam setiap percakapan kadang menyulitkan, tetapi membuat adegan terasa lebih natural dan hidup.  Hanya saja, saya kadang heran mengapa orang yang berjalan-jalan di siang bolong dan di tengah kota bawa-bawa pedang, pisau lempar dan berbagai macam equipment lainnya bisa membaur dengan warga sekitar.  Begitu juga kalau blending dengan para biarawan yang sedang berjalan (Dengan pose menunduk dan berdoa), sepertinya para guards tidak bisa melihat kalau biarawan yang di tengah formasi kerudungnya beda sendiri, bawa senjata pula.

Ternyata, tidak hanya saya sendiri yang penasaran, ada orang yang berkomentar begini di Youtube:

-Game di NDS-ku cuma Pokemon, Pokemon, Osu, dan Pokemon lagi.  Aku main Pokemon White, padahal sudah tamat Pokemon Black.  Dika pun iba melihat koleksiku ini.  Dia pun memberiku game RPG+Visual Novel dari Shin Megami Tensei: Devil Survivor.  Ceritanya Tokyo di-lockdown oleh pemerintah karena ada invasi demon, dan kita dibekali gadget berbentuk semacam NDS bernama COMP, yang fungsinya untuk memanggil dan menjinakkan demon.  Hari-hari kegelapan NDS-ku sudah berakhir.

Suatu hari aku minta berbagai saran ke Dika, dia bilang “Aku belum sampai situ Ric, mendingan kamu cari walkthrough di internet aja..” Lalu aku pun berjuang melawan satu persatu demon yang ada.

Beberapa hari kemudian, ketika aku sedang bergelut melawan demon yang kuat sekali, tiba-tiba Dika SMS: “Ah, tamatnya nggantung nih.”

Entah bagaimana cara dia melakukannya, tapi kecepatannya luar biasa.  Jangan pernah meragukan kehebatan Dika dalam masalah game.

Ada banyak sekali cerita, tapi kurasa cukup sekian dulu.

UAS

Entah sudah berapa bulan berlalu sejak post terakhirku.  Sampai musim telah berganti, dan Gendhis sudah punya anak.  Oh ya, anaknya hitam, persis kayak bapaknya.

Yang namanya UAS itu gak pernah menyenangkan, apalagi karena berlangsung sebulan setelah Pensaga, dimana festive mood-nya masih terasa.  Bikin terasa gimana gitu.  Belum lagi ada banyak tekanan, misalnya tugas dan tryout dari bimbel.  Tak lupa juga mengingat waktu penyelenggaraannya yang relatif lama.  Lebih menjengkelkan lagi karena ada dua macam tes, yaitu dari kota dan dari RSBI, berarti kami harus mengerjakan tes dua kali.  Entah siapa orang gila yang menyusun jadwal UAS semester ini, Fisika didampingkan dengan Matematika, Kimia dengan Biologi.  Konon katanya seorang siswa kelas XII muntah-muntah saat mengerjakan soal Fisika, lalu dia menolak mengerjakan tes berikutnya (dalam hal ini, matematika).  Orang penyusun jadwal itu pasti memiliki masa lalu yang berat, lalu melampiaskannya kepada kami.

Rasanya kami tak pernah akan punya cukup waktu untuk belajar, apalagi untuk pelajaran-pelajaran penuh hapalan macam Pendidikan Kewarganegaraan.  Kira-kira seperti inilah:

Tiap belajar PKn, rasanya seluruh waktu yang kumiliki takkan pernah cukup untuk menghapal semua pasal-pasal yang ada.  Ujung-ujungnya aku improvisasi dengan mengarang bebas.  Ah, segala masalah essay rasanya bisa diselesaikan dengan mengarang bebas.  Aku tulis semua yang aku ketahui, entah benar atau tidak, yang penting panjang.  Jadi kalau di jadwal tes tertulis “PKn-B. Inggris”, tes sebenarnya adalah “B. Indonesia-B. Inggris”.  Percayalah.

Oke, cukup sekian dulu.  Tetap sehat, jaga stamina.

Semester V

Ahahaha, sudah lama enggak nge-post di sini…

Ya, saya sudah masuk kelas XII, harus serius biar bisa mengamankan satu bangku kuliah fakultas kedokteran.  Seperti biasa, kelas diacak lagi, tapi anak-anak Pelita tetap tumpah di satu kelas, XII IPA 3.  Keren ya, kelas 3 SMA, nama kelas XII IPA 3, di SMA 3.  Tapi yang tidak bisa disembuhkan adalah sifat pelupaku ini.  Misalnya siang ini:

Aku: “Kelompok kita untuk tugas bahasa Jepang isinya siapa aja sih?”

Ruri: “Ada Tuus, Bunga, Safira, gitu deh.”

Aku: “Safira?”

Ruri: “Iya, Fira.”

Aku: “Fira? Yang kayak apa sih orangnya?”

Ruri: “YA AMPUN ERIC! DI DEPANMU ITU FIRA!”

Aku: “Oh.”

You got the idea…

Yang tidak bisa dilewatkan dari beberapa hari pertama masuk sekolah, tentu saja *ehm* promosi subsie! *tabur confetti* Meskipun seraknya tidak separah tahun kemarin (sama sekali gak serak malah), tetap saja susah bicara.  Tahun ini kami promosi di depan ruang karawitan, di ruang terbuka itu.  Harus kumpulin energi untuk ngomong satu kalimat aja.

Dengan Endra si ketua karawitan pergi ke Pati, dan Dewi yang anak OSIS jadi pembina MOS, kami cukup handicapped di sini.  Promosi kloter pertama cuma ada 3 orang yang bicara, termasuk aku.  Bisa bayangin bicara tentang subsie karawitan ke 60-70 orang dengan harus bersuara keras? Hm.  Di antara anak-anak baru itu, ada satu yang menghampiri kami dan bilang “Mas, latihannya kapan ya?” “Sabtu depan atau habis puasa, dek..” jawab kami.  Aku terharu, ada juga yang bener-bener minat… *hapus air mata* Semoga Tuhan menerangi jalanmu dan melancarkan 6 semester-mu di Smaga  , anak muda…

Untunglah, kloter terakhir cukup banyak anak karawitan yang datang dan ikutan ngasih bantuan untuk promosi, terlebih lagi kloter terakhir adalah kloter yang dipimpin Dewi! You know what was going to happen..

Maya: “Kalau enggak bisa main nanti kami ajarin kok!”

Dewi: “Iya, nanti diajarin sama Mas Eric ini lho!”

Mila: “Ehm, sekian promosi dari kami!”
Aku: “Ada pertanyaan?”

Dewi: “Oh ya, Mas Eric masih single lho!”

*bad pokerface*

Aku sudah berkhayal ada satu anak yang bangkit dari barisan dan bertanya keras-keras “Mas Eric nomor HP-nya berapa yah?”, ternyata emang gak ada.

Promosi berjalan lancar tanpa ada pihak yang disakiti.

——————

Oh ya, aku upload videoku meng-cover 君の知らない物語「Kimi no Shiranai Monogatari」 dari Supercell, yang jadi ending anime “Bakemonogatari”  Sekarang video itu sudah ku-upload ke Youtube, tapi aku takut yang ada malah 0 likes 5225 dislikes… Jangan sampai ah.  Hii….
Klik di sini kalau mau lihat videonya.

Yah, kira-kira segitu dulu ceritaku.  Apa ceritamu? (Lah, emangnya iklan…)

Akhir-akhir ini, beberapa charger alat elektronik di rumahku seperti menghindari pemiliknya.  Waktu baterai Ixus mp3 player drop, charger-nya hilang dari muka bumi, dan terpaksa pakai kabel USB-nya SD card reader, lalu nge-charge di PC.  Begitupun juga charger HP Nokia juga mulai mengkhianati diriku.  Baterai hape sudah sekarat, dan charger-nya hilang, mungkin ikutan kabur sama charger Ixus.  Lalu mereka kawin dan membentuk keluarga charger yang bahagia di luar sana.  Begitu pikirku.

Pagi ini, baterai hape makin sekarat, dan akhirnya charger aku temukan.  Tapi…

Baru kali ini aku lihat kabel seruwet ini

Baru kali ini aku lihat kabel seruwet ini

Entah siapa yang melakukan perbuatan kurang manusiawi ini, aku bener-bener gak habis pikir.  Kabel-kabel yang tergeletak di kamarku ini seolah melakukan fusion menjadi semacam IQ game kabel ruwet.  Mungkin kalau aku berhasil mengurai semua kabel itu, IQku bisa naik jadi 200.  Mengurai satu kabel charger handphone untuk memotret gambar di atas aja sudah susahnya minta ampun.

Pesan moral: Bila diperlakukan dengan kurang santun, kabel-kabel yang Anda anggap tidak penting bisa melakukan pemberontakan massal dan mengkudeta Anda.  Bisa saja, pada tahap berikutnya kabel-kabel itu menyatu dengan kabel TV, kulkas, komputer dan alat elektronik lain untuk membentuk kabel hisap (satu familia dengan pasir hisap) dan menghisap seluruh rumah Anda.

Sibuk

Wah, wah, sepertinya blog ini mulai banyak sarang laba-labanya.  Sudah lama banget aku nggak nulis di sini.  Haha.  Ini disebabkan oleh:

1. Aku sibuk main Pokemon Black, dan… dibantai Elite Four.  Sudah seminggu berjuang, belum menang juga. Sialan.  (Lha malah curhat)

2. Habis puas dibantai, aku nyusun deck sambil meratapi kenapa deck X-Saber-ku cupu sekali.

3. Setelah pusing nyusun deck, besoknya ulangan dan ulangan.

4. Habis ulangan? Acara-acara seperti Kartini Ganesha cukup menyita waktu dan tenaga.

5. Puas ngurusin acara, latihan untuk pentas seni Paskahan Pelita Minggu besok.  Oh ya, gitar listriknya nyetrum, mungkin dia masih kerabat sama Telepon Umum Coin Domsav.

6. Setiap connect internet, pasti bukanya Facebook sama Kaskus, habis itu nerus main CS.

Lalu barulah aku tersadar, blogmu gimana Ric? Krik… krik… krik…

Sudahlah, bisa dibilang tulisan ini hanyalah filler semata, untuk tulisan sungguhan masih aku pikirkan…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.